Langsung ke konten utama

Qawaidul Imla wal Khat -Analisis Kaidah Penulisan Kata Idzin ( إذ ) dan Karakteristiknya Dalam Penulisan Imla'iyah dan Mushaf Usmaniy

 

ANALISIS KAIDAH PENULISAN KATA IDZIN ( إذ ) DAN KARAKTERISTIKNYA DALAM PENULISAN IMLA’IYAH DAN MUSHAF USMANIY

 

Karmelia Humonggio

 

Imelhumonggio64463@gmail.com

 

Abstrak

            Bahasa Arab mempunyai ciri-ciri  kekhususan yang tidak terdapat pada bahasa-bahasa lainnya. Kemudian dari kekhususannya ini menjadikan bahasa Arab  sebuah bahasa yang felksibel, mempunyai elastisitas yang tinggi, maka dalam  menjalankan dan mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi, sarana dalam penyampaian tujuan agama, pencatatan berbagai ilmu pengetahuan, telah mampu disampaikan dengan mudah dan benar. Bahasa   adalah   alat   komunikasi   yang   digunakan   untuk   mengungkapkan keinginan dan  ide yang  ada dalam  hati individu  kepada  orang lain.

            Artikel ilmiah dengan judul “Analisis Kaidah Penulisan Kata Idzin ( إذ ) dan Karakteristiknya dalam Penulisan Imla’iyah dan Mushaf Usmaniy” ini ditulis dengan tujuan untuk memenuhi Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester Dua pada mata kuliah Qawaidul Imla wal Khat dengan proses analisis juga pencarian materi dan data-data yang dikumpulkan dengan cara mencari artikel dan buku-buku online di internet dikarenakan keadaan sekarang dimana sedang dianjurkan untuk melaksanakan WFH atau Work From Home dikarenakan Virus Covid-19.

            Penulisan bahasa arab harus memahami kaidah imla’iyah mulai dari penulisan kata hingga kalimat. Penulisan kata yang salah akan berpengaruh pada perubahan makna. Apabila kalimat yang ditulis berupa ayat atau hadits, maka akan sangat berakibat fatal bahkan bisa menyesatkan. Jadi apabila ingin menulis bahasa arab dengan baik dan benar maka  pengetahuan mengenai kaidah-kaidah menulis bahasa arab harus dipahami dan dikuasai. Manfaat dari penulisan dan artikel ilmiah ini adalah untuk mengetahui kaidah penulisan serta karakteristik bahasa Arab baik dalam penulisan Imla’iyah dan juga penulisan dalam Mushaf Usmany.

Kata kunci: Kaidah Penulisan, Penulisan Imla’iyah, Mushaf Usmany

 

A.           Pendahuluan

          Bahasa Arab adalah bahasa komunikasi yang dikenal erat hubungannya dengan agama Islam. Kedatangan Islam sebagai ajaran agama di suatu lingkungan masyarakat yang kemudian dianut sebagai pedoman hidupnya menuntut para pemeluknya untuk memahami bahasa Arab yang merupakan bahasa kitab suci ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadis Nabi Muhammad Saw. Hubungan yang sinergis antara bahasa Arab dan Islam, tidak lain karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang sekaligus juga melibatkan secara langsung atau tidak, tradisi kehidupan bangsa Arab sebagai basic umat Islam

            Penulisan wahyu Al-Qur’an dimulai pada masa Nabi Muhammad SAW. Hal ini diperintahkan sendiri oleh Rasulullah SAW kepada beberapa sahabat. Namun, penulisan tersebut belum dikumpulkan dalam satu mushaf. Setelah Rasulullah SAW wafat, dimulailah kekhalifahan pada masa Abu Bakar. Pada saat itu terjadi perang yamamah yang melibatkan sebagian besar penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang dikumpulkannya dalam satu mushaf. Pada masa kekhalifan Utsman bin Affan, semakin banyaknya penghafal Al–Qur’an yang tersebar di berbagai wilayah. Tentunya, pada masa kekhalifan sebelumnya, yaitu pada masa khalifah Abu Bakar yang memiliki metode penulisan berbeda. Dalam menulis wahyu Al–Qur’an yang berbeda pada masa khalifah Utsman. Hal ini dapat dilihat dari metode penulisam yang digunakan dalam mushaf utsmani yang memperhatikan beberapa aspek yang berbeda.

            Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan untuk mengungkapkan keinginan dan ide yang ada dalam hati individu kepada orang lain. Mustofa al ghulayaini menyatakan bahwa: bahasa adalah kata atau lafal yang digunakan oleh setiap orang untuk menyampaikan maksud atau kehendak mereka. Dalam mempelajari bahasa arab, salah satu kemahiran yang tidak dapat dikesampingkan begitu saja adalah kemahiran menulis. Menulis merupakan kegiatan yang mempunyai hubungan dengan proses berfikfir serta keterampilan ekspresi dalam bentuk lisan. Menulis tidak mungkin dipisahkan dengan keterampilan berbahasa lain, seperti mendengarkan, berbicara dan membaca. Keempat keterampilan bahasa itu harus saling melengkapi, mempengaruhi, dan dipengaruhi. Pengalaman dan masukan yang diperoleh dari menyimak, berbicara, dan membaca akan  memberikan kontribusi berharga dalam menulis, begitu juga sebaliknya. Namun demikian, menulis memiliki karakter khas yang membedakannya dari yang lainnya. sifat aktif dan produktif dalam menulis memberikannaya ciri khusus dalam hal kecaraan, medium, dan ragam bahasa yang digunakannya.

            Bahasa dalam pengertian sehari-hari adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulis merupakan pencerminan kembali bahasa lisan. Dalam percakapan-percakapan secara lisan jelas terdengar bahwa kata-kata seolah dirangkai satu sama lain, serta disana sini terdengar perhentian sebentar atau agak lama dengan suara menaik atau menurun. Semuanya itu begitu biasa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak muncul persoalan bagi pendengar. Persoalan itu baru muncul bila percakapan-percakapan atau bahasa-bahasa lisan ini ditranskipkan dalam tulisan, yang sering kali tidak bisa mempresentasikan secara total pesan dari bahasa lisan. Dalam penyampaian informasi secara lisan, kita dibantu oleh unsur-unsur non segmental, atau apa yang disebut dengan ‘unsur non linguistik’, yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gejala-gejala fisik lainnya. Padahal di dalam bahasa tulis hal-hal yang disebutkan tadi tidak ada, lalu sebagai gantinya harus di ungkapkan melalui kata kerja. Persoalan semacam ini dialami oleh hampir semua bahasa termasuk bahasa arab, oleh karena itu muncullah beberapa pedoman penulisan kata dan tanda baca atau pungtuasi dalam bahasa arab. Ini semua merupakan salah satu usaha para ahli bahasa untuk bias mengungkapkan bahasa lisan dengan baik kedalam bahasa tulis, meskipun tetap tidak bias mewakilinya secara keseluruhan

 

B.           Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan Mushaf Usmany?

2.      Bagaimana Metode Penulisan Al-Qur’an Yang Digunakan Pada Mushaf Usmany?

3.       Apa yang dimaksud dengan Penulisan Imla’iyah?

4.      Apa Definisi Bahasa Arab?

5.      Bagaimana Karakteristik Bahasa Arab?

6.       Apa Urgensi Bahasa Arab Dan Berbagai Ilmunya?

7.       Apa Saja Aspek Yang Meliputi Penulisan Bahasa Arab?

8.       Bagaimana Penulisan Kata Izin yang Benar?

 

C.            Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan karya ini untuk mengungkapkan tentang:

1.      Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Mushaf Usmany.

2.      Mengetahui Bagaimana Metode Penulisan Al-Qur’an Yang Digunakan Pada Mushaf Usmany.

3.       Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Penulisan Imla’iyah.

4.      Mengetahui Apa Definisi Bahasa Arab.

5.      Mengetahui Bagaimana Karakteristik Bahasa Arab.

6.       Mengetahui Apa Urgensi Bahasa Arab Dan Berbagai Ilmunya.

7.       Mengetahui Apa Saja Aspek Yang Meliputi Penulisan Bahasa Arab.

8.       Mengetahui Bagaimana Penulisan Kata Izin yang Benar.

 

D.           Metode Kajian

Adapun metode kajian yang yang digunakan dalam penulisan karya ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang mencari dan menetukan ilmu pengetahuan sesuai dengan fakta. Metode ini juga bisa dikatakan sebagai metode  yang menjelaskan mengenai gejala-gejala yang sudah ada dilakukan dengan cara mengumpulkan data. Sehingga metode kajian ini mempunyai sebuah tujuan bisa menggambarkan secara sistematis dari suatu fakta.

 

E.            Pembahasan

 

Mushaf Usmany

          Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Alquran hanya berada di dada-dada kaum Muslimin. Ada juga yang ditulis di pelepah-pelepah daun kurma, batu putih yang tipis dan halus, dan lain-lain. Keadaan tersebut membuat kaum Muslimin membaca Alquran dengan dialek yang berbeda. Mungkin tidak setiap Muslim mengetahui bahwa Alquran yang banyak dibaca saat ini, dulunya berasal dari ayat-ayat Alquran yang berserakan. Namun, akhirnya lembaran ayat berserakan tersebut dikumpulkan pada masa Khalifah Utsman bin Affan, yang kemudian disebut dengan mushaf Usmany.

            Istilah Mushaf Utsmani sudah tidak asing lagi di telinga umat Islam. Istilah mushaf dibentuk dari kata "shahifah", yaitu bentuk jamak dari kata "shaha'if", "shuhuf". Menurut Al-Jauhari dalam kitab Ash-Shihah fi al-Lughah, shahifah berarti al-kitab. Secara bahasa, shahifah bisa diartikan sebagai lembaran-lembaran tulisan. Kata shuhuf dinyatakan delapan kali di delapan ayat Alquran, yaitu ada di dalam surah Thaha ayat 133, surah an-Najm ayat 36, surah al-Muddatstsir ayat 52, surah 'Abasa ayat 13, surah at-Takwir ayat 10, surah al-A'la ayat 18 dan 19, dan surah al-Bayyinah ayat 2.

            Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, mushaf Utsmani adalah mushaf dari ayat-ayat Allah SWT yang dikumpulkan kaum Muslimin pada zaman khilafah atau pemerintahan sahabat Utsman bin Affan. Mushaf Alquran tersebut dibakukan penulisannya pada tahun 25 Hijriyah atau 646 Masehi. Pada masa kekuasaan Khalifah Utsman bin Affan, mushaf masih gundul, tidak berharakat atau tidak terdapat tanda baca. Untuk menghindarkan dari kesalahan baca, lalu ahli bahasa, Abu Al-Aswad Zalim bin Sufyan ad-Dhu'ali, merumuskan tanda harakat dan titik atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib. (Ensiklopedi Islam Jilid 4).

            Dalam hal bacaan, orang yang mula-mula menaruh perhatian terhadap kemungkinan pertikaian yang terjadi di kalangan masyarakat Islam adalah Huzaifah bin Yaman. Keadaan tersebut kemudian disampaikan kepada Khalifah Utsman agar mendapatkan penyelesaian. Langkah awal yang dilakukan Khalifah Utsman adalah meminta kumpulan naskah Alquran yang disimpan Hafsah binti Umar, yaitu kumpulan tulisan yang berserakan pada zaman pemerintahan Abu Bakar. (Ensiklopedi Islam Jilid 5, hlm 142). Khalifah Utsman kemudian membentuk suatu badan atau panitia yang diketuai Zaid bin Sabit, sedangkan anggotanya adalah Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Haris. Tugas yang harus dilaksanakan oleh tim tersebut adalah membukukan lembaran-lembaran yang lepas dengan cara menyalin ulang ayat-ayat Alquran ke dalam sebuah buku yang disebut mushaf.

            Dalam pelaksanaannya, Khalifah Utsman menginstruksikan agar penyalinan tersebut harus berpedoman kepada bacaan mereka yang menghafalkan Alquran. Seandainya terdapat perbedaan dalam pembacaan, yang ditulis adalah yang berdialek Quraisy. Sebab, Alquran diturunkan dalam bahasa Quraisy. Bahasa Quraisy merupakan bahasa yang paling mulia, bahasa yang digunakan oleh Rasulullah SAW, bahasa yang paling tinggi kedudukan tata bahasanya. Salinan kumpulan Alquran yang dikenal dengan nama Al-Mushaf, oleh panitia tersebut diperbanyak sejumlah lima buah. Empat naskah dibawa ke Makkah, Suriah, Basra, dan Kufah. Sementara, satu naskah lagi tetap berada di Madinah yang disebut mushaf Al-Imam.

            Tujuan awal pengumpulan Alquran tersebut, yaitu untuk mempersatukan semua umat Islam yang sempat terpecah belah karena adanya perbedaan dalam pembacaan Alquran. Khalifah Utsman juga memerintahkan kepada semua gubernurnya untuk segera menghancurkan semua mushaf yang ada di tengah-tengah masyarakat dan digantikan dengan mushaf yang kini disebut mushaf Utsmani tersebut. Sejak saat itu, kaum Muslimin bersatu di atas satu mushaf Utsmani. Mushaf Utsmani dirumuskan dengan nukilan yang mutawatir, sehingga tidak ada perbedaan atau perselisihan sedikit pun dalam nukilan tersebut. Mushaf Alquran yang disebut sebagai mushaf Utsmani akan tetap terpelihara di atas pemeliharaan Allah SWT sampai hari kiamat.

 

Metode Penulisan Al-Qur’an Yang Digunakan Pada Mushaf Usmany

A.    Tanda Pemisah Surat

Awalnya pada naskah Mutshaf Uthmani tidak memiliki pemisah surah (السو ر فواصل ), Sehingga setiap permulaan tiap surat selalu diawali oleh بسم الله الر حمن الر حيم  yang ditulis dalam jarak lebih senggang dari surat.

Gambar 1.1: Sebuah Mushaf abad pertama Hijrah di dalam skrip Hejazi.

 

Beberapa naskah yang tidak resmi ditulis bersamaan dengan Mushaf Uthmani, pemisah surat bisa dilihat secara selayang pandang melalui pengenalan sebuah ornament sederhana. Biasanya ungkapan kalimat KHAT itu yang selalu tampak tertulis. Contohnya dalam Mushaf Malik bin Abi 'Amir.

Gambar 1.2: Sebuah Mushaf abad pertama Fiijrah di dalam skrip flejazi.

 

Adapun Mushaf ini tidak diikuti dengan pengenalan nama surat, dalam warna yang berbeda, tetapi masing-masing tetap mempertahankan bentuk ornament dan juga kalimat pembuka

 بسم الله الر حمن الر حيم .

Gambar 1.3: Sebuah Mushaf terakhir abad pertama atau awal abad kedua hijrah, sebuah ornament yang diikuti dengan nama surah (dalam tinta emas) memisahkan surah yang lain.

 

B.     Tanda Pemisah Ayat.

      Mushaf Samarqand juga dikenal dengan Mushaf Tashkent, dinisbatkan pada Uthmani. Yaitu yang dimaksud merupakan naskah dari hasil kopian dari naskah asli. Sepertinya mushaf tersebut ditulis oleh beberapa tangan yang diantaranya menghapus pemisah–pemisah ayat.

 

Gambar 1.4: Mushaf Tashkent.

 

Gambar 1.5: Lembaran lain dari Mushaf Tashkent (Samarqand).

 

      Sebelumnya, pemisah ayat yang panjang disisipkan. Tidak terlihat adanya penggunaan cara tertentu yang ditetapkan. Setiap penulis bebas menggunakan metode pilihannya sendiri. Ketiga contoh yang dikemukakan, semua diambil dari Mushaf yang ditulis dalam skrip Hejazi (tahun pertama Hijrah). Dalam contoh pertama, pemisah ayat berbentuk dua kolom dari setiap tiga titik; dalam contoh kedua, berbentuk garis dan empat titik, dalam contoh ketiga, titik yang berbentuk segitiga. Adapun berikut manuskripnya;

 

Gambar 1.6: Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam bentuk titik kolom.

 

 

Gambar 1.7: Sebuah Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam bentuk empat titik honisontal.

 


Gambar 1.8: Sebuah lagi Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam bentuk segi tiga.

 

 Kemudian hiasan selanjutnya digunakan dalam bentuk ciri khusus untuk ayat kelima dan kesepuluh.

Gambar 1.9: Sebuah Mushaf abad kedua Hijrah dengan tanda khusus pada setiap ayat kesepuluh ( baris kedua dari atas ).

 

Gambar 2.0: Mushaf ini dari ahad ketiga Hijrah, mempunyai tanda untuk setiap ayat kelima (baris ketiga dari atas dalam bentuk satu titik berwarna emas) dan tanda lainnya pada setiap ayat kesepuluh (baris ketiga dari bawah). Semua ayat yang lain dipisahkan oleh bentuk segitiga.

 

Adapun mushaf yang lain, ditulis oleh seorang ahli kaligrafi Ibn al Bawwab tertanggal 391 H/ 1000 M dan disimpan pada Chester Beatty. Dalam Mushaf ini ada beberapa tanda khusus untuk setiap ayat kelima dan kesepuluh, dan selanjutnya ditulis kata- kataئلا بو ن, عشرون, عسر .. seperti sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan seterusnya.

Gambar 2.1: Sebuah Mushaf yang ditulis ditulis oleh seorang ahli kaligrafi Ibn al Bawwab

 

C.     Kaidah-Kaidah Pokok Tentang Tulisan Pada Mushaf Utsman

      Adapun kaidah tersebut terbagi menjadi enam, antara lain:

1.      Membuang huruf: alif, ya’, wawu, dan lam dengan ketentuan, sebagai berikut:

a.       Alif dibuang pada huruf nida’ seperti “يا ئيهاالناس” pada ha’ tanbih seperti “هأ نتم pada lafal Jalalah, إله, الر حمن, dan “سبحن”. Alif juga dibuang sesudah lam seperti pada kata “خلئف” antara kedua lam seperti kata “كلله”: pada semua jama’ yang mengikuti wazan “مفا عل” dan sebagainya seperti “المسجد”: pada semua bilangan seperti “ثلا ث”, pada basmalah, dan di tempat-tempat lain dengan ada beberapa pengecualian.

b.      Ya’ dibuang pada semua isim manqus munawwan dalam keadaan rafa’ atau jar seperti “غيرباغ ولاعاد”; juga ya’ mutakallim pada kata-kata ini: ,فأرسلون,ارهبون,خافون, أطيعون dengan ada sedikit pengecualian.

c.       Wawu dibuang apabila berkumpul dengan wawu lain seperti

لا يستون” dan “فأواإلى الكهف”.

d.      Lam dibuang apabila terjadi idgham seperti “اليل” dan “الذى” dengan sedikit pengecualian.

2.      Menambah huruf alif, ya’ dan wawu dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a.       Alif ditambahkan pada akhir semua kata jama’ dan lafal yang dipersamakan dengan jama’ seperti “أولوالألباب, بنواائسرئيل”; sesudah hamzah yang ditulis di atas wawu seperti “تالله تفتؤا”; pada kata “مائتين, مائة”; pada kata “السجيل, الرسول, الظنون” pada firman Allah: “وأطعناالرسولا” dan “فاظلوناالسبيلا”.

b.      Ya’ ditambahkan pada lafal-lafal: “بأيد, بأيكمالمفتون, من تلقاء”.

c.       Wawu ditambahkan pada “أولات, أولاء, أولئك, أولو”.

3.      Menulis hamzah dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a.       Apabila hamzah mati, ia ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harakat huruf sebelumnya seperti “البأساء, اؤتمن, ائذن” dengan beberapa pengecualian.

b.      Apabila hamzah hidup,maka apabila ia pada permulaan kata dan bersambung dengan huruf tambahan, ia ditulis dengan alif seperti “فبأى, سأنرل, سأصرف, إذا, أولو, أبوب”, dengan beberapa pengecualian.

      Apabila hamzah di tengah kata, ia ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harakatnya seperti “تقرؤه, ستل, سأل, dengan ada beberapa pengecualian.

      Apabila hamzah di akhir kata, ia ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harakat, sebelumnya, seperti “لؤلؤ, شاطئسبأ, dengan sedikit pengecualian.

4.      Mengganti huruf dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a.       Alif diganti wawu pada kata “الحياة, الزكاة, الصلاة”, dengan beberapa pengecualian. Alif ditulis ya’, apabila asalnya ya’ pada kata “يتوفيكم”. Demikian pula alif ditulis ya’ pada kata “حق, باى, متى”, kecuali “لدى الباب dalam surat Yusuf, yang ditulis dengan alif.

b.      Nun diganti alif pada nun taukid khafifah dan pada kata “إذن”.

c.       Ha’ta’nits/ta’ marbuthah diganti dengan ta’mabtsuthah/ terbuka seperti pada kata “رمة” dalam surat Al-Baqarah, Al-A’Raf, Hud, Maryam, Al-Zuhruf, dan pada kata “نعمة” dalam surat Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maidah, Ibrahim, Al-Nahl, Luqman, Fathir, Al-Thur.

5.      Menyambung dan memisahkan huruf dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a.       Kata “أن” disambung dengan “لا”, contohnya “أن لاتقولوا”.

b.      Kata “من” disambung dengan “ما”, kecuali pada “ومن مارزقناكم” dalam surat Al-Munafiqun.

c.       Kata “عن” disambung dengan “ما”.

d.      Kata “إن” disambung dengan “ما”.

e.       Kata “كل” disambung dengan “ما”.

6.      Menulis lafal yang mempunyai dua bacaan dengan tulisan salah satu dari dua bacaan itu, di dalam al-Mushaf ditulis tanpa alif kata-kata, seperti: “تقدوهم,ووعدسى,يخدعون الله, ملك يوالدين”.

Semua lafal tersebut boleh dibaca dengan alif atau tanpa alif. Demikian pula lafal-lafal di bawah ini ditulis dengan ta’ mabsuthah/ panjang, seperti: “أنزلعليه آيت غيابتالجب” dalam surat Al-Ankabut dan “ثمرت منأكمامها” dalam surat Fushilat. Sebab lafal-lafal tersebut boleh dibaca dengan bentuk jama’ dan mufrad.

Adapun Khalifa Utsman membentuk tim penulisan Al–Qur’an yang terdiri dari ketua team Zaid ibn Tsâbit, anggota Abdullah ibn az-Zubair, Sa`îd ibn al-Ȃsh dan Abdurrahman dan ibn al-Hârits ibn Hisyâm. Dibawah arahan 'Utsmân, team menulis kembali Al-Qur`an dalam beberapa mushaf dengan satu sistem penulisan yang diusahakan semaksimal mungkin dapat menampung perbedaan qirâah. Oleh sebab itu huruf-huruf dibiarkan tanpa titik dan syakal, karena kalau pakai titik dan syakal perbedaan tidak dapat di akomodir. Misalnya kata fatabayyanu (اونّيبتف) dalam firman Allah: In jâakum fâsiqun binabain fatabayyanû bisa juga dibaca fatatsabbatû (اوتّبثتف). Begitu juga nunsyiruha (اهشرنن) dalam firman Allah wanzhur ilal `izhâmi kaifa nunsyiruha, bisa juga dibaca nunsyizuha ( اهشزنن).

Untuk kata-kata yang sekalipun ditulis tanpa titik dan syakal tetap hanya bisa dibaca dalam satu versi qirâah saja padahal ada qirâah lain maka team menuliskan versi Quraisy. 'Utsmân juga memberi petunjuk kepada tiga anggota team dari Quraisy bahwa apabila mereka bertiga berbeda pendapat dengan Zaid tentang cara penulisan, maka tulislah dengan logat Quraisy karena Al-Qur`an ditrunkan dengan logat mereka.

Kata `Utsmân: “Bila kalian (bertiga) berselisih bacaan dengan Zaid ibn Tsâbit, maka tulislah berdasarkan bacaan Quraisy, karena (pada pokoknya) Al-Qur`an diturnkan dengan bahasa mereka” (HR Bukhâri).

Kalau mushaf yang ditulis di masa Abu Bakar sudah disusun ayat demi ayat sesuai dengan urutannya yang tauqîfi tetapi belum disusun surat demi surat sesuai dengan urutannya, maka team empat menyempurnakannya dengan menyusun surat demi surat sesuai dengan urutannya (tartîb as-suwar).

 

Penulisan Imla’iyah

A.    Definisi Imla’

Secara bahasa al-Imla>’ (ا ٍلإ ْملاَء) berasal dari bahasa Arab  berasal dari kata kerja amla> - yumli >- imla>’ (امَليْ – يملي - املاء) yang bermakna menuliskan sesuatu atau perkataan. Sedangkan  dalam kamus elektronik bahasa Arab terpercaya pada pencarian kata اَلإمَلاء telah dilengkapi secara bahasa dan istilah mengenai hal tersebut adalah  berikut:

أَمْلَى الدَّرْسَ عَلَيْهِمْ : أَي يَنْطِقُ بِالكَلِماتِ و الجُمَلِ وا آلخَرُونَ يَكْتُبونَ ما يَسْمَعونَهُ "

أَمْلَى الدَّرْسَ عَلَيْهِمْ   ia telah mengimlakkan pelajaran kepada mereka: maksudnya yaitu  ia sedang menyampaikan dengan kata-kata dan kalimat dan  yang lainya menuliskan apa yang mereka dengarkan darinya. Yaitu pembelajaran latihan yang diikuti oleh para siswa dalam menulis huruf, tulisan dengan bentuk yang benar.

Sedangkan secara istilah atau definisi, al-Imla>’   dapat ditinjau dari beberapa buku yang membahas qawa>’id dan pembelajaran al-Imla>’   adalah:

-          Ilmu Imla adalah salah satu disiplin ilmu bahasa Arab tentang dasar tulisan yang benar dan bertujuan konsentrasi pada pena agar terhindarnya dari kekeliruan.

-          Memahami al-Imlamerupakan kegiatan duplikasi secara tertulis pada bunyi kata-kata yang dilafazkan dan didengar, dimana  pembaca melakukan bantuan berupa pengulangan lafaz kata sesuai dengan lafaz yang dibaca di awal. Oleh karena itu wajib dalam Imla peletakan huruf-huruf diletakkan pada tempatnya yang benar. Agar konsisten pada lafaz dan maknanya.

Menurut Dr. Abdul Munim Sayyid Abdul ‘Al menyebutkan 3 macam imla’:

1.      Imla’ manqul

            Imla’ manqul atau imla’ menyalin yaitu imla’ dengan cara menyalin tulisan yang ditulis pada media lain seperti karton selanjutnya ditulis pada buku. Latihan menulis ini sesuai diberikan kepada pemula

2.      Imla’ mandzur atau imla’ mengamati

            Yaitu imla’ dengan cara mengamati tulisan yang tertera pada medium tertentu kemudian ditulis kembali dalam buku tanpa melihat lagi. Imla’ ini lazim disebut imla’ mansukh, sebab dilakukan dengan cara menyalin tulisan yang sudah di hapus. imla’ ini tingkatannya lebih tinggi disbanding imla’ manqul.

3.      Imla’ masmu’ atau imla’ menyimak

            Yaitu imla’ dengan mendengar kalimat melalui media tertentu yang kemudian menulis kembali apa yang didengar.

 

Bahasa Arab

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab, mendefinisikan bahasa dengan: aswat yu’abbir biha kull qaum ‘an aghradhihim (berbagai bunyi yang digunakan masyarakat untuk mengungkapkan berbagai maksud atau tujuan mereka).

Menurut pakar ilmu Ushul, lughah (bahasa) adalah setiap lafadz (kata) yang dibuat untuk menunjukkan makna tertentu, cara mengetahui lughah adalah melalui periwayatan. Senada dengan definisi tersebut, al-Ghalayaini mendefinisikan bahasa dengan: alfazh yu’abbir kull qaum ‘an maqasidihim (berbagai kata yang digunakan masyarakat untuk mengungkapkan berbagai maksud mereka). Dari konteks ini, bahasa Arab didefinisikan dengan:

الكَلِمَاتُ الَّتِي يُعَبِّرُ بِهَا الْعَرَبُ عَنْ أَغْرَاضِهِمْ وَقَدْ وُصِلَتْ إِلَيْنَا مِنْ طَرِيْقِ النَّقْلِ وَحَفِظَهَا لَنَا الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ وَ اْلأَحَادِيْثُ الشَّرِيْفَةُ وَمَا رَوَاهُ الثِّقَاتُ مِنْ مَنْثُورِ الْعَرَبِ وَمَنْظُومِهِمْ

                        Berbagai kata yang digunakan orang-orang Arab untuk mengungkapkan berbagai maksud atau tujuan mereka, disampaikan pada kita dengan jalan menukil/ transfer/ riwayat, dihimpun dan dijaga kepada kita oleh al-Quran al-Karim dan hadits-hadits mulia, dan berbagai riwayat terpercaya berupa prosa-prosa dan syair-syair Arab.

 

Karakteristik Bahasa Arab

A.    Karakteristik Universal Bahasa Arab

Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Dikatakan unik karena bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti adanya kesamaan nilai antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Karakteristik universalitas bahasa Arab antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Bahasa Arab memiliki ragam bahasa, yang meliputi,

a.       Ragam sosial atau sosiolek yaitu ragam bahasa yang menunjukan stratifikasi sosial ekonomi penuturnya;

b.      Ragam geografis, ragam bahasa yang menunjukan letak geografis penutur antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga melahirkan dialek yang beragam;

c.       Ragam idiolek yaitu ragam bahasa yang menunjukan integritas kepribadian setiap individu masyarakat (لهجة فردية).

2.      Bahasa Arab memiliki system, aturan dan perangkat yang tertentu, yang antara lain: Sistemik, bahasa yang memiliki system standard yang terdiri dari sejumlah sub-sub system (sub system tata bunyi, tata kata, kalimat, syntax, gramatikal, wacana dan sebagainya).

B.     Karakteristik Unik Bahasa Arab

Adapun beberapa ciri-ciri khusus bahasa Arab yang dianggap unik dan tidak dimiliki bahasa-bahasa lain di dunia, terutama bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

1.      Aspek bunyi

            Bahasa pada hakekatnya adanya bunyi, yaitu berupa gelombang udara yang keluar dari paru-paru melalui pipa suara dan melintasi organ-organ speech atau alat bunyi. Bahasa Arab, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, memiliki ciri-ciri khusus dalam aspek bunyi yang tidak dimiliki bahasa lain, terutama bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bhasa daerah yang banyak digunakan di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Ciri-ciri khusus itu adalah:

a.       Vokal panjang dianggap sebagai fonem (أُو ، ِي ، أَ )

b.      Bunyi tenggorokan (أصوات الحلق), yaitu ح dan ع

c.       Bunyi tebal ( أصوات مطبقة), yaitu ض , ص , ط dan ظ .

d.      Tekanan bunyi dalam kata atau stress (النبر )

e.       Bunyi bilabial dental (شفوى أسنـانى ), yaitu ف

2.      Aspek Kosakata

            Ciri khas kedua yang dimiliki bahasa Arab adalah pola pembentukan kata yang sangat fleksibel, baik melalui derivasi (تصريف استـقاقى) maupun dengan cara infleksi (تصريف إعرابـى). Dengan melalui dua cara pembentukan kata ini, bahasa Arab menjadi sangat kaya sekali dengan kosakata. Misalnya dari akar kata علم, bila dikembangkan dengan cara اشتقاقى , maka akan menjadi:

a.       عَلِم  يَعلَم  dan seterusnya (تصريف اصطلاحى ) = 10 kata

b.      يعلِّم – عَلّم  dan seterusnya = 10 kata

c.       أعلم – يعلم  dan seterusnya = 10 kata

d.      تعلميتعلم  dan seterusnya = 10 kata

e.       تعالم  يتعالم  dan seterusnya = 10 kata

f.        يستعلم– استعلم  dan seterusnya = 10 kata

      Dari masing-masing kata ini dapat lagi kembangkan dengan cara تصريف إعرابـى sehingga akan lebih memperkaya bahasa Arab. Dari kata علم saja akan menjadi ratusan kata. Bahkan menurut suatu penelitian, unsur bunyi yang ada pada suatu kata, meskipun urutan letaknya dalam kata tersebut berbeda akan mengandung arti dasar yang sama.

3.      Aspek Kalimat

a.       I’râb

    Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki sistem i’râb terlengkap yang mungkin tidak dimiliki oleh bahasa lain. I’râb adalah perubahan bunyi akhir kata, baik berupa harakat atau pun berupa huruf sesuai dengan jabatan atau kedudukan kata dalam suatu kalimat. I’râb berfungsi untuk membedakan antara jabatan suatu kata dengan kata yang lain yang sekaligus dapat merubah pengertian kalimat tersebut.

Contoh:

1)      ما أحسنَ خالداً  artinya alangkah baiknya si Khalid

2)      ما أحسنُ خالدٍ  artinya apa yang baik pada si Khalid?

3)      ما أحسنَ خالدٌ  artinya apa yang diperbuat baik oleh si Khalid?

b.       Jumlah Fi’liyyah dan Jumlah Ismiyyah

      Komponen kalimat dalam bahasa apapun pada dasarnya sama, yaitu subyek, predikat dan obyek. Namun, yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya adalah struktur atau susunan (تركيب) kalimat itu. Pola kalimat sederhana dalam bahasa Arab adalah :

اسم + اسم

فعل + اسم

Sementara dalam bahasa Indonesia pola kalimatnya adalah :

KB + KB

KB + KK

      Pola فعل + اسم  dalam bahasa Arab sudah dianggap dua kalimat. Dari perbandingan itu, tampak bahwa pola فعل +  اسم hanya dimiliki bahasa Arab. Meskipun kadang ada ungkapan bahasa dalam percakapan sehari-hari pola yang sama dengan ini ditemui dalam bahasa Indonesia seperti turun hujan, tetapi ungkapan itu biasanya didahului oleh keterangan waktu umpamanya tadi malam turun hujan.

c.       Muthâbaqah (Kesesuaian)

      Ciri yang sangat menonjol dalam susunan kalimat bahasa Arab adalah diharuskannya muthâbaqah atau persesuaian antara beberapa bentuk kalimat. Misalnya harus ada Muthâbaqah antara mubtada’ dan khabar dalam hal ‘adad (mufrad, mutsannâ dan jama’) dan dalam jenis (mudzakkar dan muannats), harus ada Muthâbaqah antara maushûf dan shifat dalam hal ‘adad, jenis, i’râb (rafa’, nashb, jar), dan nakirah serta ma’rifah-nya. Begitu juga harus ada Muthâbaqah antara hâl dan shâhib al-hâl dalam ‘adad dan jenisnya.

4.      Aspek Huruf

            Bahasa Arab memiliki ragam huruf dalam penempatan susunan kata, yaitu ada huruf yang terpisah, ada bentuk huruf di awal kata, di tengah dan di akhir kata. Setiap satu huruf hanya melambangkan satu bunyi. Cara penulisan berbeda dengan penulisan huruf  Latin, yakni dari arah kanan ke kiri. Disamping itu, ada beberapa huruf yang tidak dibunyikan seperti pada kata-kata : أولئك – الزكوة – أنا – لا، أنا طالب  dan sebaliknya, ada beberapa bunyi yang tidak dilambangkan dalam bentuk huruf seperti

 هذا – ذلك – أنتَ ؟ .

 

Urgensi Bahasa Arab dan Berbagai Ilmunya

          Selain secara internal bahasa, bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik, disisi lain terdapat nilai lebih dan signifikasi bahasa Arab dalam konteks normatif Agama Islam, hal tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.      Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw. untuk seluruh manusia dan al-Quran merupakan seruan bagi seluruh manusia. Allah SWT menurunkan al-Quran dengan bahasa Arab dan menjadikannya berbahasa Arab. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran sebagai bacaan dengan berbahasa Arab agar kalian memahaminya. Juga firman-Nya: …dengan bahasa Arab yang jelas. Dengan demikian, bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa Islam karena bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa al-Quran. Karena itu, jika bukan bahasa Arab maka tidak disebut dengan al-Quran.

2.      Membaca nash al-Quran merupakan ibadah, bahkan shalat tidak sah tanpa membaca al-Qur’an. Allah SWT berfirman: Karena itu, bacalah apa yang mudah bagi kalian dari al-Quran itu. Nabi saw. juga bersabda: Tidak ada shalat bagi orang yang (di setiap rakaat) tidak membaca surat al-Fatihah. Perintah “membaca al-Quran” artinya adalah membaca kalimat-kalimat dan hal ini tidak bisa diartikan dengan membaca terjemahannya atau tafsirnya. Ini merupakan dalil yang tegas tentang ketidakbolehan membaca surat al-Fatihah di dalam shalat dengan selain bahasa Arab, sekalipun ia belum bisa –mengucapkan dengan baik ungkapan– bahasa Arab. Dengan demikian, bahasa Arab merupakan perkara esensial dalam Islam. Bahkan keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari Islam.

3.      Rasulullah saw. setelah hijrah dan setelah kekuatan Islam berdiri di Madinah, mengirim surat kepada Kaisar (penguasa Romawi), Kisra (penguasa Persia), Muqaiqis (penguasa Qibthi, Mesir), para raja dan para pemimpin kabilah, yang berisi seruan kepada mereka agar masuk Islam. Surat beliau itu ditulis dengan bahasa Arab. Padahal bisa saja surat itu diterjemahkan ke dalam bahasa mereka, yakni ke dalam bahasa selain bahasa Arab. Jadi, ketika Rasulullah saw. tidak menulis suratnya kepada Kaisar, Kisra dan Muqaiqis dengan menggunakan bahasa mereka, padahal mereka bukan bangsa Arab, dan tujuan beliau menulis surat kepada mereka adalah dalam rangka untuk menyampaikan Islam, maka ini menjadi dalil bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa yang digunakan oleh negara ketika itu dalam menjalankan setiap aktivitas resminya, ini menunjukan pentingnya bahasa Arab dalam kehidupan formal kenegaraan, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Karenanya dalam suatu kesempatan, Rasulullah saw. pernah bersabda: “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal: ‘karena aku (berbahasa Arab), al-Qur’an, dan bahasa penduduk surga adalah Arab.

      Dalam riwayat lain, Ibnu Sa’ad meriwayatkan: Pada perang Badar Rasul saw. pernah menahan 70 orang tahanan, mereka yang ditawan tebusannya adalah sesuai dengan kemampuan harta mereka. Penduduk Makkah mampu tulis menulis bahasa Arab, sedangkan penduduk Madinah tidak pandai tulis menulis bahasa Arab, maka bagi tawanan yang tidak punya harta –untuk menebus diri mereka– mesti mengajari sepuluh orang pemuda Madinah, jika sepuluh pemuda Madinah telah mahir, orang tersebut bebas, itulah tebusan bagi tawanan yang tidak punya harta. Inilah bukti lain betapa penting bahasa Arab, sehingga Rasulullah saw. mensejajarkannya dengan harta tebusan perang.

4.      Para ulama umat Islam telah bersepakat wajibnya mempelajari, menjaga dan menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sosial. Umar Ibn al-Khattab ra. pernah berkata: Belajarlah bahasa Arab karena bahasa Arab itu memperkuat akal (kecerdasan) dan menambah keberanian.” Ibn Taimiyah menyatakan: Bahasa Arab itu adalah bagian agama, memahaminya merupakan kewajiban, Ingat, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah kewajiban. Padahal keduanya hanya bisa dipahami jika bahasa Arab dikuasai. Jadi segala sesuatu yang menghantarkan terlaksananya sebuah kewajiban, ia merupakan kewajiban. Imam asy-Syafi’i pernah berkata: Allah SWT mewajibkan kepada semua bangsa belajar bahasa Arab sebagai konsekuensi mereka yang diseru dengan al-Quran dan beribadah dengannya.” Bahkan menurut laporan Syamsuddin Az-Dzahabi dari Harmalah, Imam asy-Syafi’i juga menyatakan: Tidaklah manusia menjadi bodoh (ajaran Agama) dan banyak berselisih, melainkan karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong kepada (teori) Aristoteles. Meski ungkapan Imam asy-Syafi’i ini masih diperdebatkan, namun para ulama pada faktanya telah berkonsensus dalam hal yang sama yakni pentingnya bahasa Arab bagi kaum muslimin.

Dari beberapa hal yang telah disebutkan diatas, nampak jelas urgensitas sekaligus peran bahasa Arab yang meliputi, peran sebagai bahasa Agama, Ilmu Pengetahuan dan Hubungan Internasional.

Selanjutnya, dalam perkembangannya bahasa Arab telah melahirkan berbagai ilmu-ilmu yang sangat penting untuk dipahami, sebagai berikut:

a.       Ilmu al-Lughah (linguistics – lexicology), ilmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata (lafazh) Arab besamaan dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat mengetahui asal kata dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan pedoman dalam percakapan, pidato, surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan menulis dengan baik pula.

b.      Ilmu Nahwu (grammar – syntax), ilmu yang membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui i’rab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang dapat berubah (mu’rab). Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa, untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami AI-Quran dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan.

c.       Ilmu Sharf (morphology), ilmu yang menguraikan tentang bentuk asal kata, maka dengan ilmu ini dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula afiks, sufiks dan infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Ilmu ini secara praktis biasa disebut Ilmu Tashrif (inflection), pencetus ilmu ini adalah Muaz bin Muslim.

d.      Ilmu Isytiqaq (etymology), ilmu tentang asal kata dan pemecahannya, tentang imbuhan pada kata (hampir sama dengan ilmu Sharf).

e.       Ilmu al-‘Arudh (metrics, prosody, poetics), membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra syair dan puisi. llmu Arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair, dan tujuanya untuk membedakan syair dan bukan syair. Dalam ilmu ini dikenal: bahar thawil, bahar madid, bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hajaz, bahar razaz, bahar sari’, bahar munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqtadhob, bahar mujtats, bahar mutaqArab, bahar Ramal dan bahar mutadarak.

f.        Ilmu Qawafi (rhyme), membahas suku kata terakhir dari bait-bait syair sehingga diketahui keindahan syair. pencetus ilmu ini Muhallil bin Rabi’ah paman Imri’ul Qais.

g.      llmu Qardhus Syi’ri (versification), ilmu tentang karangan yang berirama (lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk membantu menghafalkan syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.

h.      Ilmu Khat (calligraphy), yaitu pengetahuan tentang huruf dan cara merangkaikannya, termasuk bentuk halus kasarnya juga seni menulis dengan indah, dimana bentuknya dapat dibedakan mulai dari khat tsulus, diwan, parsi dan khat nasakh. Penemu pertama ilmu khat adalah nabi Idris as. karena beliaulah yang pertama kali menulis dengan kalam.

i.        Ilmu Insyak (writing, composition, art of writing) yaitu ilmu tentang karang mengarang surat, buku, pidato, cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga jangan sampai salah dalam dunia karang-mengarang.

j.        Ilmu Mukhadarat (lecture), ilmu tentang cara-cara memperdalam suatu persoalan, untuk diperdebatkan didepan majlis, untuk menambah keterampilan berargumentasi, mahir bertutur dan terampil mengungkapkan cerita.

k.      Ilmu Balaghah, meliputi: 1) Ilmu Badi’ (rethoric), ilmu tentang seni sastra, penemu ilmu ini adalah Abdullah bin Mu’taz (w. 274 H). llmu ini ditujukan untuk menguasai seluk beluk sastra sehingga memudahkan seseorang dalam meletakkan kata sesuai tempatnya sehingga kata-kata tadi menjadi indah, sedap didengar dan mudah diucapkan. 2) Ilmu Bayan, ilmu yang menetapkan beberapa peraturan dan kaedah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat, penemunya adalah Abu Ubaidah yang menyusun pengetahuan ini dalam “Majazu al-Quran“, lalu berkembang pada masa imam Abu al-Qahir al-Jurjani, setelah itu disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya, seperti AI-Jahizh, lbnu Mu’taz, Qudamah bin Ja’far dan Abu Hilal al-Askari. Dengan ilmu ini akan diketahui rahasia bahasa Arab dalam prosa dan puisi, keindahan sastra al-Quran dan Hadist. Tanpa mengetahui ilmu ini seseorang tidak akan dapat menilai apalagi memahami isi al-Quran dan Sabda nabi dengan sesungguhnya. 3) Ilmu Ma’ani, ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari aspek penunjukan makna, atau ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadha al-hal. tujuannya untuk mengetahui I’jaz al-Quran, keindahan sastra al-Quran yang tiada taranya. Penggagas ilmu ini adalah Abu al-Qahir al-Jurjani (w. 471 H).

 

Aspek Yang Meliputi Penulisan Bahasa Arab

                Aspek-aspek dalam kitabah menurut ulyan adalah al-qowaid (nahwu dan shorof), imla’ dan khot.

A.    Kaidah Ilmu Nahwu

      Ilmu ini mempelajari kaidah bahasa arab yang terkait dengan perubahan setiap huruf dan harokat pengucapannya. Dalam konteks ini, terdapat perbedaan signifikan antara bahasa arab dan bahasa Indonesia maupun bahasa inggris. Dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris, tidak ada perubahan huruf dan kalimat, sementara dalam bahasa arab terjadi manakala ada huruf lain yang mempengaruhi perubahan tersebut. Di pihak lain, dalam nominal, bahasa arab mempunyai tiga kategori pengelompokan, sementara bahasa inggris dan bahasa Indonesia hanya mempunyai dua kategori pengelompokan. Dalam bahasa arab terdapat mufrod (bentuk tunggal) tatsniyah (bentuk kedua-an) dan jami; (bentuk jama’). Sementara bahasa inggris hanya mempunyai bentuk singular (bentuk tunggal) dan plural (bentuk jamak). Perbedaan-perbedaan inilah yang secara prinsipal menjadi dasar perubahan huruf dalam kalimat yang menjadi kajian dalam gramatika ilmu nahwu.  Ilmu ini memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga bahasa arab dari kesalahan dan perubahan secara terstruktur. Penemu ilmu ini adalah abul aswad ad- du’ali atas perintah dari khalifah ali bin abi thalib. Ilmu ini menjadi keharusan untuk dipelajari. Namun tidak semua kaidah ilmu nahwu harus dipelajari, cukup struktur dan pola kalimat yang dibutuhkan dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan. Kecuali bagi mereka yang ingin menjadi spesialis dalam bidang nahwu, maka harus mempelajarinya dengan mendalam.

B.     Kaidah Ilmu Sharaf

      Kaidah ini berhubungan dengan perubahan di dalam kalimat itu sendiri, utamanya berhubungan dengan kata kerja dan bentuk waktu (tense). Dalam bahasa arab tidak ada penggolongan tense sebanyak bahasa inggris. Bahasa arab hanya mengenal tiga bentuk waktu, yaitu: almustaqbal (waktu dimasa depan), al hal (waktu kini/present), dan al madhi (waktu lampau/past). Meskipun demikian, kerumitan dalam bahasa arab justru terletak dari perubahan di dalam kalimat, untuk menandai waktu dan makna yang dimaksudkan. Sama dengan ilmu nahwu, penemunya adalah abul aswad ad-du’ali.

Keterampilan menulis dalam bahasa arab  secara garis besar dapat dibagi kedalam tiga kategori ynag tidak dapat dipisahkan, yaitu imla’, kaligrafi, dan mengarang.

a.       Imla’

      Secara bahasa al-imla’ berasal dari bahasa arab amlaa- yumlii- imlaa an yang bermakna menuliskan sesuatu atau perkataan. Sedangkan secara istilah atau definisi, al-imla’ dapat ditinjau dari beberapa buku yang membahas qowa’idul imla’ adalah salah satu disiplin ilmu bahasa arab tentang dasar tulisan yang benar dan bertujuan konsentrasi pada pena agar terhindar dari kekeliruan.

      Memahami al-imla’ merupakan kegiatan duplikasi secara tertulis pada bunyi kata-kata yang dilafadzkan dan didengar, dimana pembaca melakukan bantuan berupa pengulangan lafadz sesuai dengan lafadz yang dibaca diawal. Oleh karena itu, wajib dalam imla’peletakan huruf-huruf diletakkan pada tempat yang benar. Agar konsisten pada lafadz dan makna.

      Menurut Dr. Abdul Munim Sayyid Abdul ‘Al menyebutkan 3 macam imla’

1.      Imla’ manqul. Imla’ manqul atau imla’ menyalin yaitu imla’ dengan cara menyalin tulisan yang ditulis pada media lain seperti karton selanjutnya ditulis pada buku. Latihan menulis ini sesuai diberikan kepada pemula

2.      Imla’ mandzur atau imla’ mengamati yaitu imla’ dengan cara mengamati tulisan yang tertera pada medium tertentu kemudian ditulis kembali dalam buku tanpa melihat lagi. Imla’ ini lazim disebut imla’ mansukh, sebab dilakukan dengan cara menyalin tulisan yang sudah di hapus. imla’ ini tingkatannya lebih tinggi disbanding imla’ manqul.

3.      Imla’ masmu’ atau imla’ menyimak yaitu imla’ dengan mendengar kalimat melalui media tertentu yang kemudian menulis kembali apa yang didengar.

b.      Menulis indah

      Al-khat ( kaligrafi) adalah kategori menulis yang tidak hanya menekan rupa/ postur huruf dalam membentuk kata-kata dan kalimat, tetapi juga menyentuh aspek-aspek estestika (al-jamal). Macam-macam gaya kaligrafi arab berdasarkan seni tulis arab murni, yaitu:

1.      Khat kufi.

            Ialah jenis khat tertua. Seni tulis ini banyak memiliki sudut dan siku –siku serta bersegi, mengandungi garis-garis vertical pendek dan garis mendatar yang memanjang (syahruddin, 2004: 29). Khat kufi sering disebut juga dengan istilah jazm, jenis khat ini sudah banyak menghiasi bangunan-bangunan utama di alam melayu karena agak sukar untuk dilakukan, juga agak susah dibaca oleh umat islam.

2.      Khat naskhi.

            Ialah jenis tulisan tangan berbentuk cursif, yakni tulisan bergerak berpusing (rounded) dan sifatnya mudah serta jelas untuk ditulis dan dibaca (c. israr, 1985: 83). Menurut didin sirodjuddin A.R. (1997:103), ‘kata naskh diambil dari akar kata nuskhah atau naskhah”. Jenis khat ini sangat mendominasi penggunaan tulisan kaligrafi yang ada dialam melayu karena digunakan dalam pelbagai tulisan mushaf al-qur’an dan bahkan digunakan juga dalam penulisan pelbagai buku teks pelajaran umum, agama islam, dan sebagainya.

3.      Khat tsulutsi.

            Ialah tulisan yang banyak digunakan untuk hiasan dipelbagai manuskrip, khususnya dalam tajuk-tajuk buku atau sub-subbab dan nama-nama kitab. Jenis ini juga digunakan sebagai tulisan hiasan pada dinding-dinding binaan dan hiasan dalam . selain itu , jenis khat ini sangat popular dalam kalangan masyarakat islam dialam melayu karena selalu dijadikan sebagai hiasan tulisan dalam bangunan-bangunan utama seperti masjid, istana, sekolah dan lain-lain.

4.      Khat faritsi.

            Ialah jenis khat ta’liq dan farits yang banyak berkembang dinegara parsi (iran), Pakistan, india, dan turki.perkembangan khat ini bermula dari parsi pada masa pemerintahan dinasti safavi (1500-1800 M). menurut sejarahnya, khat ta’liq berasal daripada tulisan kufi yang dibawa oleh penguasa - penguasa arab zaman penaklukan parsi. Jenis khat ini tidak terlalu banyak digunakan sebagai hiasan kecuali untuk tulisan-tulisan tertentu seperti tajuk-tajuk buku yang tersimpan rapi di perpustakaan dan sekolah

5.      Khat riq’ah

            Yaitu yang disebut khat riq’ie atau riqa’. Khat ini merupakan jenis tulisan cepat dan hampir sama dengan cara penulisan stenografi (ilmu trengkas, kamus dewan edisi keempat, 1989: 1226). Penggunaan jenis tulisan khat ini dialam melayu tidak terlalu meluas dalam kalangan masyarakat umum.

6.      Khat diwani

            Ialah khat berbentuk melingkar-melingkar, condong bersusun-susun, hurufnya tumpang tindih, lentur dan bebas. Khat diwani merupakan suatu corak penulisan utsmani yang sejajar perkembangannya dengan tulisan syikasteh farisi. Jenis khat ini masih banyak ditemui dialam melayu sebagai hiasan-hiasan tambahan, tetapi tidak sebanyak penggunaan khat nasakh ataupun tsulutsi.

c.   Mengarang

Mengarang (al-insya’) adalah kategori menulis yang berorientasi kepada pengekspresian pokok pikiran berupa ide, pesan, perasan, dan sebagainya kedalam bahasa tulisan. Mengarang sendiri dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:

1.      Mengarang terpimpin adalah membuat kalimat atau paragraph sederhana dengan bimbingan tertentu berupa pengarahan, contoh, kalimat yang tidak lengkap dan sebagainya

2.      Mengarang bebas adalah membuat kalimat atau paragraph tanpa pengarahan, contoh, kalimat yang tidak lengkap atau yang sebagainya.

 

Penulisan Kata Idzin Yang Benar

Izin Atau Ijin?

            Di dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari kita sering mene­mukan tulisan kata tertentu secara berbeda. Ambillah contoh kata izin dan ijin serta asas dan azas. Kita tentu bertanya tulisan mana yang baku di antara keduanya itu. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus kembali pada aturan pengindonesiaan kata asing.

            Di dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD) dinyatakan bahwa ejaan kata yang berasal dari bahasa asing hanya diubah seperlunya agar ejaannya dalam bahasa Indo­nesia masih dapat dibandingkan dengan ejaan dalam bahasa asal­nya. Kita mengindonesiakan kata bahasa Inggris frequency menjadi frekuensi, bu­kan frekwensi, karena ejaan dalam bahasa asalnya juga tanpa ‘w. Memang, semula kita itu dari bahasa Belanda. Namun, sesuai dengan PUEYD, sekarang menyerap kadang kita lebih mengacu pada bahasa Inggris yang pengguna­annya lebih meluas.

            Kata-kata yang dicontohkan pada alinea pertama di atas bukan kata yang berasal dari bahasa Inggris, melainkan kata yang berasal dari baha­sa Arab. Untuk dapat mengetahui penulisan kata-kata itu dalam bahasa asalnya, kita harus melihatnya dalam bahasa Arab. Apabila kita bandingkan antara lafal lambang bunyi bahasa Arab dan lafal lambang bunyi bahasa Indonesia, kita melihat adanya per­bedaan perbedaan­ yang cukup besar. Upaya terbaik untuk mengatasi hal itu dalam pengindonesiaan kata bahasa Arab ialah mencarikan lambang bunyi baha­sa Indonesia yang paling dekat dengan lafal lambang bunyi serupa dalam bahasa Arab. Atas dasar pertimbangan itu, huruf (ذ) di indonesiakan menjadi zal, bukan jal. Di samping itu, huruf zai (ز) diindonesiakan juga menjadi karena kedua lafal lambang bunyi itu dapat dikatakan sama. Berdasarkan penjelasan itu, penulisan yang benar ialah izin (dengan ‘z’), bukan  ijin (dengan ‘j’). Kata itu di dalam bahasa asalnya ditulis dengan zal (ذ) seperti halnya kata zikir dan azan.

            Kata ijin adalah bentuk tidak baku dari kata izin sehingga penulisan yang benar adalah izin. Penulisan kata yang benar disebut juga dengan kata baku yaitu kata yang penulisannya sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ijin adalah bentuk tidak baku dari izin sehingga penulisan yang baku adalah izin.

 

F.            Kesimpulan

          Tujuan awal pengumpulan Alquran tersebut, yaitu untuk mempersatukan semua umat Islam yang sempat terpecah belah karena adanya perbedaan dalam pembacaan Alquran. Khalifah Utsman juga memerintahkan kepada semua gubernurnya untuk segera menghancurkan semua mushaf yang ada di tengah-tengah masyarakat dan digantikan dengan mushaf yang kini disebut mushaf Utsmani tersebut. Sejak saat itu, kaum Muslimin bersatu di atas satu mushaf Utsmani. Mushaf Utsmani dirumuskan dengan nukilan yang mutawatir, sehingga tidak ada perbedaan atau perselisihan sedikit pun dalam nukilan tersebut. Mushaf Alquran yang disebut sebagai mushaf Utsmani akan tetap terpelihara di atas pemeliharaan Allah SWT sampai hari kiamat.

Adapun dalam Mushaf Uthmani, memiliki berbagai metode dan teknik penulisan yang digunakan. Bermacam-macam batasan, seperti menggunakan tinta emas dan perkembangan yang lainnya, sudah digunakan menurut selera kemampuan setiap penulis. Tetapi ini semuanya hanya seni, tidak seperti pemisah surah dan ayat betul-betul merupakan alat bantu pada saat itu.

Ilmu Imla adalah salah satu disiplin ilmu bahasa Arab tentang dasar tulisan yang benar dan bertujuan konsentrasi pada pena agar terhindarnya dari kekeliruan. Memahami al-Imlamerupakan kegiatan duplikasi secara tertulis pada bunyi kata-kata yang dilafazkan dan didengar, dimana  pembaca melakukan bantuan berupa pengulangan lafaz kata sesuai dengan lafaz yang dibaca di awal. Oleh karena itu wajib dalam Imla peletakan huruf-huruf diletakkan pada tempatnya yang benar. Agar konsisten pada lafaz dan maknanya.

Bahasa Arab didefinisikan dengan berbagai kata yang digunakan orang-orang Arab untuk mengungkapkan berbagai maksud atau tujuan mereka, disampaikan pada kita dengan jalan menukil/ transfer/ riwayat, dihimpun dan dijaga kepada kita oleh al-Quran al-Karim dan hadits-hadits mulia, dan berbagai riwayat terpercaya berupa prosa-prosa dan syair-syair Arab.

          Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Dikatakan unik karena bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti adanya kesamaan nilai antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya.

            Selain secara internal bahasa, bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik, disisi lain terdapat nilai lebih dan signifikasi bahasa Arab dalam konteks normatif Agama Islam.

            Aspek-aspek dalam kitabah menurut ulyan adalah al-qowaid (nahwu dan shorof), imla’ dan khot.

Penulisan kata idzin yang benar ialah izin (dengan ‘z’), bukan  ijin (dengan ‘j’).

 

G.           Daftar Pustaka

Aziz, Azalia Wardha. Perkembangan Penulisan Dalam Mushaf Uthmani. Jurnal mata kuliah Studi Naskah Al–Qur’an.

Istiqomah, Rahmania. Penulisan Bahasa Arab.

Perceka, Jaka Abdul. Karakteristik Bahasa Arab.

Sebayang, Abdul Aziz. Desain Pembelajaran Imla’ Dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Tulisan Arab. Jurnal Edu Riligia: Vol. 1 No. 4 Oktober - Desember 2017.

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/385

http://nanoazza.wordpress.com/2008/07/03/karakteristik-bahasa-arab-dan-penerapannya/

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi

https://republika.co.id/berita/oy2a3k313/mengenal-mushaf-utsmani#:~:text=Asy%20Syaikh%20Muhammad%20bin%20Shalih,25%20Hijriyah%20atau%20646%20Masehi.

 

Komentar